RIWAYATHIDUP KH AS'AD SYAMSUL ARIFIN A. Asal-Usul Keluarga Kiai As'ad Syamsul Arifin lahir di Syi'ib Ali sebuah perkampungan kecil dekat Masjidil Haram Makkah, dari pasangan Raden Ibrahim dan Siti Maimunah 1 pada tahun 1897 M 2. Secara ringkas silsilah beliau dari pihak ayah KH. R As'ad Syamsul Arifin adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang juga merupakan ulama Tokoh NU, Beliau juga salah satu Murid dari KH. Khalil Ban Mahfudz Shiddiq - Tebuireng Online. Biografi Singkat KH. Mahfudz Shiddiq. KH. Mahfudz Shiddiq lahir di Jember, pada hari Kamis Pon, tanggal 27 Rabi’ul Awwal 1325 H/ 1907 M. Beliau merupakan wafat di Jember, tanggal 5 Muharram 1363 H/ 01 Januari 1944 M dan dimakamkan di pemakaman keluarga Turbah, Condo, Jember. Kyai Hasyim berfikir dalam dan panjang terlebih dahulu. Pada akhirnya Kyai Hasyim mendapat izin dan restu berupa isyarat dua kali dari Syaikhona Kholil Bangkalan yang dibawa oleh KH. As’ad Syamsul Arifin yang saat itu masih menjadi santri di Bangklan, untuk mendirikan organisasi yang diusulkan oleh Kyai Wahhab. Majlis zikir dan sholawat TERAK MENCORONG tiap kegiatan selalu dapat siraman rohani atau Ceramah dari KHR. KHOLIL AS'AD SAMSUL ARIFIN Sukorejo Situbondo Bers lG2ZXz. As’ad Syamsul Arifin merupakan putra ulama besar Madura, KH Syamsul Arifin, yang juga pendiri NU. Ia dianggap telah berjasa besar bagi bangsa Indonesia. JAKARTA, Indonesia — Menyambut peringatan Hari Pahlawan, Presiden Joko “Jokowi” Widodo di Istana Negara menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada ulama Nahdlatul Ulama NU, almarhum KH Raden As’ad Syamsul Arifin, pada Rabu, 9 November. As’ad Syamsul Arifin merupakan putra ulama besar Madura, KH Syamsul Arifin, yang juga pendiri NU. Ia dianggap telah berjasa besar bagi bangsa Indonesia. As’ad Syamsul Arifin pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan bangsa. “Tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan,” kata Kepala Biro Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan, Laksma TNI Suyono Thamrin, melalui siaran pers. As’ad Syamsul Arifin lahir pada 1897 di Mekkah, Arab Saudi, dan meninggal dunia pada 4 Agustus 1990 di Situbondo, Jawa Timur, pada usia 93 tahun. Ulama yang terakhir menjadi Dewan Penasihat Musytasar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu adalah pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah di Desa Sukorejo, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo. Ia merupakan penyampai pesan Isyarah berupa tongkat disertai ayat Al-Qur’an dari KH Kholil Bangkalan untuk KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Pemberian gelar pahlawan nasional ini berdasarkan Keputusan Presiden Keppres Nomor 90/TK/Tahun 2016 tentang penganugerahan gelar Pahlawan Nasional. Selain itu, Presiden Jokowi juga menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Mahaputra Utama yang sudah ditetapkan dengan keputusan Presiden RI Nomor 91/TK/ Tahun 2016 tanggal 3 November 2016 kepada Mayjen TNI Purn Andi Mattalatta tokoh pejuang asal Sulawesi Selatan, dan letkol Inf Anumerta M Sroedji tokoh asal provinsi Jawa Timur. — As’ad Syamsul Arifin 1897-1990 M. adalah putra pertama dari pasangan Syamsul Arifin 1841–1951 M. dan Nyai Hj Siti Maimunah binti KH Muhammad Yasin, masih ada hubungan keluarga dengan Syaikhuna Kholil Bangkalan 1820-1925 M.. Tak ada naskah memadai yang menjelaskan sosok Nyai Maimunah ini kecuali disebutkan sebagian sumber bahwa pernikahan Kiai Syamsul Arifin dan Nyai Maimunah berlangsung di Mekah pada tahun 1890 M. KH R. Syamsul Arifin sendiri lahir dari pasangan Kiai Ruham dan Nyai Nur Sari. Jika nasab Kiai Ruham bersambung hingga ke Sunan Ampel, maka Nyai Nur Sari disebut dalam sejumlah buku sebagai keturunan Raja Sumenep ke-29, Bendoro Saud, yang memerintah dari tahun 1750 M. hingga 1762 M. Bendoro Saud kerap ditulis sebagai anak keturunan Pangeran Katandur Sayyid Ahmad Baidhawi, salah seorang cucu Sunan Kudus. Kuburan Pangeran Katandur terletak di desa Bangkal, dua kilometer dari kota Sumenep. Hingga sekarang banyak peziarah yang datang, baik ke makam Bendoro Saud di Asta Tinggi maupun ke makam Pangeran Katandur, untuk kepentingan tabarrukan dan penelitian. Kiai As’ad lahir di Mekah ketika Kiai Syamsul Arifin studi di sana. Dan Kiai Syamsul Arifin telah menghabiskan 40 tahun dari 110 tahun usianya di Mekah. Di Mekah, Kiai Syamsul Arifin berguru kepada banyak ulama besar seperti Syaikh Nawawi Banten 1813-1897 M. yang 24 karyanya banyak dibaca di pesantren-pesatren Jawa dan Madura. Kiai Syamsul Arifin juga sempat belajar pada Sayyid Abi Bakar ibn Muhammad Syatha al-Dimyathi 1849-1892 M./ 1226-1310 H. pengarang kitab I’anah al-Thalibin dan Kifayah al-Atqiya’, dua kitab yang juga banyak dikaji di pesantren. Sayang sekali Sayyid Abi Bakar Syatha tak memiliki umur pajang. Beliau wafat dalam usia 43 tahun. Namun, sebelum wafat, Sayyid Abi Bakar Syatha masih sempat berguru pada Syaikh Ahmad Zaini Dahlan 1816-1886 M., pengarang kitab yang sangat masyhur di Nusantara, syarah al-Ajurumiyah. Tak hanya Sayyid Abi Bakar, rupanya Syaikh Nawawi Banten dan Kiai Mahfudh Termas 1868-1920 M. juga berguru kepada Syaikh Ahmad Zaini Dahlan. Tak tertutup kemungkinan Kiai Syamsul Arifin yang saat itu juga sedang studi di Mekah sempat berguru pada Syaikh Ahmad Zaini Dahlan. Setelah puluhan tahun berada di Mekah, Kiai Syamsul Arifin bersama keluarganya termasuk Kiai As’ad yang masih kecil pulang ke tanah air, Nusantara. Ketika Kiai Syamsul Arifin mengembangkan Pesantren Sukorejo yang dirintisnya sejak tahun 1914 dan setelah Kiai As’ad muda malang melintang dari satu pesantren ke pesantren lain, maka Kiai As’ad yang sudah memasuki usia remaja itu dikirim kembali ke Mekah. Di sana Kiai As’ad belajar pada banyak ulama kelas dunia. Pertama, Kiai As’ad belajar pada Sayyid Abbas ibn Abdul Aziz al-Maliki 1868-1934 M./ 1285-1934 H. yang juga berguru pada al-Sayyid Abi Bakar Muhammad Syatha. Nanti anak keturunan Sayyid Abbas ibn Abdul Aziz ini menjadi guru banyak ulama nusantara. Sayyid Abbas ibn Abdul Aziz punya anak bernama Sayyid Alawi ibn Abbas al-Maliki 1910-1971 M. / 1328-1391 H., berputra Sayyid Muhammad ibn Alawi ibn Abbas 1948-2004 M./1367-1425 dan Sayyid Abbas ibn Alawi al-Maliki 1948-2015 M./ 1367-1436 H.. Sebelum wafat tahun 2004, Achmad Azaim Ibrahimy, Pengasuh PP Salafiyah Syafi’iyyah Sukorejo Situbondo periode 2012-sekarang, sempat berguru pada Sayyid Muhammad ibn Alawi. Kedua, Kiai As’ad berguru pada Sayyid Hasan ibn Sa’id 1894-1971 M./ 1312-1391 H.. Ayah beliau, Sayyid Sa’id ibn Muhammad ibn Ahmad Yamani, adalah guru Kiai Syamsul Arifin. Sayyid Hasan ini pengajar tetap di Masjidil Haram dan pernah mengajar di Madrasah Shaulatiyah tahun 1904 M/1322 H.–1907 M./1325 H. Murid-muridnya datang dari berbagai negara, mulai dari Mekah hingga Malaysia dan Indonesia. Bahkan, Sayyid Hasan ibn Sa’id pernah berkunjung ke Indonesia sebanyak dua kali. a. Tahun 1925 M./1344 H. dan kembali ke Mekah tahun 1926 M./1345 H. b. Tahun 1930 M./1349 H. dan kembali ke Mekah 1937 M./1356 H. Bahkan, beliau tercatat pernah menjadi mufti di Terengganu Malaysia ketika beliau beberapa tahun menetap di sana dan wafat di Mekah tahun 1391 H./1971 M. Dikuburkan di Ma’la Mu’alla? Mekah. Ketiga, Kiai As’ad juga berguru pada Sayyid Muhammad Amin ibn Muhammad Amin al-Kutby 1909-1984 M./ 1327-1404 H.. Nama lengkapnya, al-Sayyid Muhammad Amin ibn Muhammad Amin ibn Muhammad Shalih ibn Muhammad Husain al-Kutby al-Hasani al-Hanafi. Beliau adalah ulama bermadzhab Hanafi yang mengajar secara reguler di Masjidil Haram, Madrasah al-Falah, Ma’had I’dad al-Mu’allimin. Ia menulis sejumlah buku. Salah satu karya Sayyid Muhammad Amin Kutbi yang saya koleksi adalah Nafhu al-Thiib fi Nafhi al-Habib SAW, buku yang berisi pujian dan kekaguman penulisnya pada Nabi SAW. Ditulis dalam bentuk puisi dengan diksi yang indah. Keempat, Kiai As’ad juga berguru pada Syaikh Hasan ibn Muhammad ibn Abbas ibn Ali ibn Abdul Wahid ibn al-Abbas al-Munafi al-Masysyath 1899-1979 M./1317-1399 H.. Ia adalah ulama berpengaruh al-ustadz al-mu’atstsir di masanya. Dikenal sebagai al-muhaddits ahli hadits al-faqih ahli fikih al-Maliki bermadzhab Maliki. Ia menulis 17 kitab di berbagai bidang. Ia misalnya menulis al-Tuhfah al-Saniyah fi Ahwal al-Waratsah al-Arba’iniyyah, Ta’liqat Syarifah ala Lubbi al-Ushul, Inarah al-Duja fi Maghazi Khairi al-Wara, Bughyah al-Mustarsyidin bi Tarjamah al-A’immah al-Mujtahidin. Ia memiliki banyak murid dari berbagai negara, mulai dari Yaman hingga Indonesia. Salah satu murid Syaikh Hasan Masysyath yang dari Yaman adalah Syaikh Ismail Zain 1933-1994 M./1352-1414 H. yang kemudian menjadi guru dari salah seorang putra Kiai As’ad Syamsul Arifin, yaitu Mohammad Kholil As’ad 1970-sekarang–Pendiri dan Pengasuh PP Walisongo Situbondo Jawa Timur. Dua guru Kiai As’ad yang terakhir itu, Sayyid Muhammad Amin dan Syaikh Hasan Masysyath, dari segi usia memang lebih muda dari Kiai As’ad. Namun, sebagaimana kiai lain, dalam mencari ilmu Kiai As’ad tak memandang usia. Tak masalah berguru pada yang lebih muda karena kealiman memang tak terkait dengan usia. Kiai Syamsul Arifin juga berguru pada Sayyid Abi Bakar Syatha yang usianya terpaut 8 tahun lebih muda dari dirinya. Dengan narasi ini, ingin saya katakan; sungguh beruntung para pelajar Islam yang studi di Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Sukorejo Asembagus Situbondo Jawa Timur karena sanad ilmu mereka melalui KH. R. Syamsul Arifin dan KH. R. As’ad Syamsul Arifin adalah sanad yang tinggi, lewat jalur ulama-ulama besar terhubung hingga ke Rasulullah SAW. Semoga berkah dan manfaat. Nafa’ana Allah bi ulumihima wa afadha alaina min barakatihima, Aaamiin. Ahad, 31 Januari 2021 Oleh Abdul Moqsith Ghazali Informasi Awal - R. As'ad Syamsul Arifin merupakan seorang ulama besar sekaligus tokoh dari Nahdlatul Ulama dengan jabatan terakhir sebagai Dewan Penasihat Musytasar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama hingga akhir hayatnya. Arifin yang lahir di Mekah pada tahun 1897 ini adalah pengasuh ke 2 pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah di Desa Sukorejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo. Ia merupakan penyampai pesan Isyarah dari Kholil al-Bangkalani, berupa tongkat disertai ayat al-Qur'an untuk Hasyim Asy'ari, yang merupakan cikal bakal dibentuknya Nahdlatul Ulama. As'ad Syamsul Arifin menghembuskan napas terakhirnya pada 4 Agustus 1990 di Situbondo, ketika usianya menginjak 93 tahun. Pada 9 November 2016, ia dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 90/TK/Tahun 2016. 1 Baca Depati Amir Baca Kiai Haji Noer Ali PAHLAWAN NASIONAL - KH As'ad Syamsul Arifin Masa Muda As'ad Syamsul Arifin merupakan putra dari pasangan KH Syamsul Arifin dan Siti Maimunah. Saat berusia enam tahun, Arifin dibawa oleh orang tuanya kembali ke Pamekasan, Jawa Timur dan tinggal di Pondok Pesantren Kembang Kuning, Pamekasan, Madura. Usai menetap selama lima tahun, sang ayah mengajak Arifin berpindah ke Asembagus, Situbondo, dimana ia nantinya menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Semnenjak berusia 12 tahun, Arifin telah merantau dari satu pesantren ke pesantren lain dengan pospes pertamanya ialah Sidogiri Pasuruan. Di pondok itu, ia banyak menimba ilmu serta mengabdikan diri sebagai seorang ustaz. Beberapa waktu berselang, Arifin berpindah ke Pondok Pesantren Langitan, Tuban, kemudian ia berpindah lagi ke Mekah, bersama Kiai Nawawi. Di Mekah,Arifin menempuh pendidikannya di Madrasah Shalatiyah, dimana sebagian besar murid dan gurunya berasal dari Melayu. Pada tahun 1924, As'ad Syamsul Arifin bertolak kembali ke tanah air. 2 Perjuangan Ketika masa pendudukan Jepang, As'ad Syamsul Arifin bersama sepupunya, KH Abdus Shomad melaksanakan pendidikan militer di Jember. Pengetahuan dasar militer yang ia peroleh tersebut menjadi dasar pergerakannya bersama para kiai lain. Di Laskar Sabilillah, Hizbullah, dan Barisan Pelopor, Arifin menjadi sosok yang sangat disegani. Ketiga laskar ini menjadi sarana perjuangan para kiai, santri, dan masyarakat di wilayah Banyuwangi, Situbondo, Probolinggo, Jember, Lumajang, dan Pasuruan. Dalam menggerakkan perjuangannya, Arifin juga turut terlibat langsung dalam upaya mengusir Jepang dari Jawa Timur, yang bermarkas utama di Ponpes Raudlatul Ulum, Sumberwringin, Sukowono. Arifin juga turut terlibat dalam perjuangan dengan cara bergerilya dengan target utamanya ialah menyerang pasukan Jepang di Garahan, Kecamatan Silo. Sayangnya, rencana Arifin ini sudah diketahui oleh Jepang, sehingga tentara Jepang berhasil menyegar pasukan Arifin di Sungai Kramat, yang mengakibatkan pertempuran tidak dapat dihindari. Namun, dalam pertempuran itu, tentara Jepang menjadi kalang kabut dan melarikan diri ke dalam hutan. Pertempuran tersebut akhirnya membuahkan keberhasilan bagi pasukan As'ad Syamsul Arifin dengan sukses merebut kembali Garahan dari pendudukan Jepang tanpa adanya perlawanan. 2 Baca Suishintai Barisan Pelopor Baca Gerakan Rakyat Indonesia Gerindo En savoir plus sur le nom de famille Putra, c'est en savoir plus sur ces personnes qui, selon toute probabilité, ont des origines et des ancêtres communs. C'est la raison pour laquelle il est fréquent que le nom de famille Putra soit plus abondant dans certains pays du monde en particulier que dans d'autres. Dans cette page il est possible de savoir quels sont les pays de la planète dans lesquels existe une grande quantité de personnes avec le nom de famille Putra. Le nom de famille Putra dans le mondialisation est un phénomène qui a fait que les patronymes se sont répandus beaucoup plus loin du pays d'origine, si bien que l'on peut trouver des patronymes asiatiques en Europe ou des patronymes américains en Océanie. Il en va de même pour Putra, qui, comme vous pouvez le constater, est un nom de famille fièrement représenté presque partout dans le monde. De même, il existe des pays où le nombre de personnes portant le nom de famille Putra est certainement plus important que dans le reste des carte du nom de famille Putra Voir la carte du nom de famille PutraLa possibilité de savoir sur une carte du monde quels pays ont un plus grand nombre de Putra dans le monde, est d'une grande aide. En nous plaçant sur la carte du monde, au-dessus d'un pays particulier, nous sommes en mesure de voir le nombre exact de personnes qui portent le nom de famille Putra, d'obtenir les informations précises de tous les Putra que l'on peut trouver actuellement dans ce pays. Tout cela nous aide également à comprendre non seulement l'origine du nom de famille Putra, mais aussi la façon dont les personnes dont les origines font partie de la famille avec le nom de famille Putra ont évolué et se sont déplacées. De même, nous pouvons voir dans quels pays ils se sont enracinés et développés. C'est pourquoi, si notre nom de famille est Putra, il est intéressant de savoir vers quelles autres parties du globe il est possible qu'un de nos ancêtres ait migré un jour. Pays avec le plus de Putra dans le monde. Indonésie 414440 Malaisie 2122 Arabie Saoudite 1381 Inde 559 Singapour 394 Etats-Unis d'Amérique 291 Pologne 278 Émirats arabes unis 249 Qatar 243 Lettonie 186 Kazakhstan 184 Ukraine 126 Australie 99 Russie 68 Hong Kong 60 Japon 57 Koweït 56 Allemagne 34 Pays-Bas 19 Canada 17 Thaïlande 17 Angleterre 15 Nouvelle-Zélande 14 Oman 14 France 13 Cambodge 11 Bélarus 11 Papouasie-Nouvelle-Guinée 11 Slovaquie 10 Taiwan 5 Corée du Sud 5 Vietnam 4 Afrique du Sud 4 Sri Lanka 4 Bahreïn 4 Lituanie 4 Chine 4 Égypte 4 Philippines 4 Seychelles 4 Suède 4 Timor oriental 4 Autriche 3 Ecosse 3 Liban 2 Bosnie et Herzégovine 2 Norvège 2 Danemark 2 Croatie 2 Israël 2 Jamaïque 1 Venezuela 1 Liberia 1 Brunei 1 Maroc 1 Brésil 1 Myanmar 1 République Tchèque 1 Népal 1 Géorgie 1 Guinée 1 Hongrie 1 Irlande 1 Trinité-et-Tobago 1 Italie 1 Si vous regardez attentivement, dans ce site web nous vous présentons tout ce qui est important pour que vous ayez l'information réelle de quels pays ont un plus grand nombre de Putra autour du globe. De la même manière, il est possible de les voir de manière très graphique sur notre carte, dans laquelle les pays dans lesquels résident un plus grand nombre de personnes avec le nom de famille Putra peuvent être vus peints dans un ton plus fort. De cette façon, et d'un simple coup d'œil, vous pouvez repérer sans difficulté quels sont les pays dans lesquels Putra est un nom de famille plus fréquent, et dans quels pays Putra est un nom de famille inhabituel ou inexistant. Noms de famille similaires à Putra PatraPetraPitraPotraPutriPutruPutroPateraPatraoPatrawPatriPatriaPatroPatruPatryPedraPetrPetrayPetrePetreaPetriPetriaPetroPetruPetryPietraPiteraPitrePoitraPotroPoutrePutarePutarPeteraPoteraPhutriPuterePituraPotyraPatora Pada 3 November 2016, berdasarkan Kepres Nomor 90, Bangsa Indonesia memiliki seorang Pahlawan Nasional yakni KHR As’ad Syamsul Arifin. Sosok Kyai As’ad dikenal dengan perjuangannya dalam melawan penjajah. Tidak segan, Kiai As’ad mengeluarkan biaya besar dalam mengkonsolidasi pasukan Hizbullah-Sabilillah disaat menumpas penjajah sumber Silsilah KHR As’ad Syamsul Arifin Kyai As’ad adalah putra pertama dari KH Syamsul Arifin Raden Ibrahim yang menikah dengan Siti Maimunah. Kiai As’ad lahir pada tahun 1897 di perkampungan Syi’ib Ali Makkah dekat dengan Masjidil Haram. Garis kerurunannya berasal dari Sunan Kudus, Sunan Ampel dan Sunan Giri. Berikut jalur silsilah beliau sumber Bani Abdullah Zakaria Sejak tahun 1938, Kyai As’ad mulai fokus di dunia pendidikan. Lembaga pendidikan itupun dikembangkan dengan SD, SMP, SMA, Madrasah Qur’an dan Ma’had Aly dengan nama Al-Ibrahimy. Peran Kiai As’ad dalam pendirian organisasi Nahdlatul Ulama NU sangat nampak sekali. Ia merupakan santri kesayangan KH Kholil Bangkalan, yang diutus untuk menemui KH Hasyim Asy’ari memberi “tanda restu” pendirian NU. Di usianya ke 93, Kiai As’ad. KH As’ad Syamsul Arifin wafat pada 4 Agustus 1990 dan dimakamkan di komplek Ponpes Salafiyyah Syafi’iyyah. WaLlahu a’lamu bishshawab Artikel Menarik 1. Misteri Pemeluk Islam Pertama di Nusantara 2. Misteri 9 Sahabat Rasulullah, yang berdakwah di NUSANTARA? 3. Silsilah Kekerabatan Kyai Haji Ahmad Dahlan Muhammadiyah dengan Keluarga Pesantren Gontor Ponorogo 4. [Misteri] Tjokroaminoto Guru Presiden Soekarno, yang pernah dikunjungi Rasulullah?

putra putri kh as ad syamsul arifin